Timika, TF – Ungkapan “lingkungan membentuk seseorang” ternyata bukan sekadar nasihat turun-temurun. Berbagai penelitian ilmiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa orang-orang yang berada di sekitar kita memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, kebiasaan, kesehatan, hingga kesuksesan seseorang.
Karena itu, memilih circle atau lingkungan pergaulan yang baik kini dianggap sebagai salah satu investasi terpenting dalam kehidupan.
Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Nicholas Christakis dari Harvard Medical School bersama James Fowler dari University of California San Diego pada tahun 2007 menemukan bahwa perilaku seseorang dapat menyebar melalui jaringan sosial layaknya sebuah “penularan sosial” (social contagion). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan, pola hidup, hingga cara pandang seseorang dapat dipengaruhi oleh teman-teman terdekatnya.
Dalam publikasi ilmiah lanjutan yang diterbitkan pada 2013, Christakis dan Fowler menjelaskan bahwa berbagai perilaku manusia seperti kebahagiaan, kerja sama, kebiasaan hidup sehat, hingga pola pengambilan keputusan dapat menyebar melalui hubungan sosial. Dengan kata lain, seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran pergaulannya.
Kebiasaan Menular dalam Lingkungan Pertemanan
Temuan tersebut menjelaskan mengapa seseorang yang berada di lingkungan pekerja keras cenderung lebih termotivasi untuk berkembang. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi kebiasaan negatif juga dapat memberikan dampak yang sama kuatnya.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai social contagion atau penularan sosial, yaitu proses ketika perilaku dan kebiasaan menyebar dari satu individu ke individu lain melalui interaksi sehari-hari.
Kualitas Hubungan Lebih Penting daripada Popularitas
Temuan menarik lainnya datang dari Harvard Study of Adult Development, salah satu penelitian terpanjang di dunia yang dimulai sejak tahun 1938 dan masih berlangsung hingga saat ini.
Direktur penelitian tersebut, Dr. Robert Waldinger, menyimpulkan bahwa faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan kualitas hidup seseorang bukanlah uang, jabatan, ataupun ketenaran, melainkan kualitas hubungan sosial yang dimilikinya. Orang yang memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan terdekat terbukti lebih bahagia, lebih sehat, dan cenderung hidup lebih lama.
“Hubungan yang baik menjaga kita tetap bahagia dan sehat,” menjadi salah satu kesimpulan utama dari penelitian yang telah berlangsung lebih dari delapan dekade tersebut.
Tidak Perlu Banyak Teman, Tapi Harus Berkualitas
Sementara itu, antropolog dari University of Oxford, Robin Dunbar, melalui penelitiannya yang dipublikasikan pada 2012 menjelaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mempertahankan hubungan sosial yang benar-benar bermakna. Penelitian yang dikenal dengan istilah “Dunbar’s Number” menyebut bahwa rata-rata manusia hanya mampu menjaga sekitar 150 hubungan sosial yang stabil, dengan lingkaran pertemanan inti yang jauh lebih sedikit.
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlah teman yang dimiliki, baik di dunia nyata maupun media sosial.
Memilih Circle adalah Memilih Masa Depan
Di era digital saat ini, circle tidak hanya terdiri dari teman yang ditemui setiap hari. Akun media sosial yang diikuti, komunitas yang diikuti secara daring, hingga konten yang dikonsumsi setiap hari juga menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk pola pikir seseorang.
Karena itu, banyak pakar sosial menilai bahwa memilih lingkungan yang tepat sama pentingnya dengan memilih pendidikan atau pekerjaan yang baik. Sebab pada akhirnya, seseorang akan tumbuh menyerupai orang-orang yang paling sering ia dengar, lihat, dan ikuti.
Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak teman yang kita miliki, melainkan apakah orang-orang di sekitar kita membawa kita menuju versi terbaik diri kita atau justru sebaliknya. [Linthon]