Anak Pesisir Mimika Masih Terjebak Antara Sekolah dan Laut

Timika, TF – Persoalan pendidikan di wilayah pesisir Mimika kembali menjadi sorotan. Anggota DPRK Mimika, Rampeani Rachman, menilai hingga saat ini anak-anak di kawasan tersebut masih dihadapkan pada pilihan sulit antara melanjutkan pendidikan atau membantu orang tua mencari nafkah di laut.

Menurutnya, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir membuat anak-anak belum sepenuhnya bisa fokus pada pendidikan. Aktivitas melaut yang menjadi sumber utama penghidupan keluarga kerap membuat mereka harus meninggalkan bangku sekolah.

“Ini bukan sekadar soal akses pendidikan, tapi soal realitas hidup masyarakat pesisir. Anak-anak sering ikut orang tua melaut karena kebutuhan ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, upaya pemerintah dalam mendorong kesetaraan pendidikan antara sekolah negeri dan swasta memang penting, namun belum menyentuh akar persoalan di lapangan, khususnya di wilayah pesisir.

“Program itu baik, tapi kita juga harus melihat kondisi riil di masyarakat. Anak-anak ini butuh alasan kuat untuk tetap tinggal di sekolah,” katanya.

Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah menghidupkan kembali program makan siang tambahan di sekolah. Program ini dianggap mampu menjadi stimulus langsung untuk meningkatkan kehadiran siswa.

“Bagi mereka, makanan di sekolah bukan sekadar tambahan, tapi bisa jadi alasan utama untuk datang dan bertahan di kelas,” ungkapnya.

Ia menegaskan, tanpa intervensi yang konkret dan berkelanjutan, pola ini akan terus berulang dan berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan di wilayah pesisir.

“Kalau tidak ada langkah nyata, anak-anak ini akan terus berada di lingkaran yang sama—antara sekolah dan laut,” tutupnya. [Evan]

Scroll to Top