Timika, TF – Ratusan pendulang emas tradisional di Timika memprotes berhentinya
pembelian hasil dulangan oleh sejumlah toko emas, karena hal ini dianggap mengancam
kelangsungan ekonomi mereka sehari-hari. Mereka pun mengancam akan terus menutup
Jalan Ahmad Yani hingga Pemkab dan DPRK Mimika hadir untuk menampung aspirasi
mereka, Rabu (25/03/2026).
Blokade dilakukan dengan menempatkan batu, kayu, serta membakar ban bekas dan
sampah di titik-titik strategis jalan. Para pendulang menjelaskan bahwa kondisi ini
berdampak langsung pada penghasilan mereka, karena sebagian besar pendapatan mereka
berasal dari hasil dulangan yang kini sulit dijual.
“Kami merasa terdesak dan kerugian sudah terasa, baik waktu maupun material.
Pemerintah harus hadir dan memberikan solusi,” tegas perwakilan pendulang. Mereka
menekankan bahwa peran mereka penting dalam menjaga perputaran ekonomi lokal,
sehingga masalah ini tidak bisa diabaikan.
Menanggapi situasi tersebut, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman
menyatakan pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan DPRK Mimika untuk menggelar
Rapat Dengar Pendapat (RDP) secepatnya. Kapolres juga mengimbau seluruh koordinator
pendulang agar membahas teknis pelaksanaan RDP agar aspirasi tersampaikan dengan
tertib.
Fenomena toko emas yang menahan pembelian tidak hanya terjadi di Mimika, tetapi juga di
sejumlah daerah lain di Indonesia. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran pengepul menyusul
adanya penindakan kasus di Surabaya. “Bukan hanya di Timika, di kota lain juga terjadi hal
serupa. Pengepul takut membeli karena kasus di Surabaya,” jelas Kapolres.
Simon Victor Rahanjaan, Koordinator Pendulang Emas, menekankan bahwa tuntutan
mereka adalah kepastian pasar dan regulasi yang jelas agar persoalan serupa tidak terulang
di masa depan. Ia menambahkan bahwa salah satu toko emas kemungkinan akan kembali
membeli pada 26 Maret 2026 dengan kapasitas terbatas di bawah 4 gram per pendulang.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa setelah koordinasi dengan pihak kepolisian,
hingga pukul 15.32 WIT, para pendulang mulai membubarkan diri dari lokasi blokade di
pertigaan Pin Seluler dan pertigaan Pasar Gorong-gorong. [Linthon]