Ketua FKUB Mimika: Pawai Obor Paskah Sarat Makna Spiritual dan Toleransi

Timika, TF – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Mimika, Dr. Jeffrey C. Hutagalung, M.Phil., menilai pawai obor Paskah yang digelar pada Minggu, 5 April 2026, tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, melainkan memiliki makna mendalam bagi kehidupan umat beragama, khususnya umat Kristiani.

Dalam keterangannya, Jeffrey mengungkapkan bahwa terdapat tiga poin penting yang menjadi esensi dari pelaksanaan pawai obor tersebut, yang mencerminkan dimensi spiritual, sosial, hingga teologis.

“Pertama adalah kebangkitan spiritual. Ini berbicara tentang transformasi diri, bagaimana umat Kristiani merayakan kemenangan melalui Paskah sebagai momentum pembaruan hidup,” ujarnya saat diwawancarai di sela-sela kegiatan pawai obor.

Poin kedua, lanjutnya, adalah kebangkitan peradaban. Ia menegaskan bahwa pembangunan peradaban di Kabupaten Mimika tidak bisa dilakukan oleh satu kelompok atau satu agama saja, melainkan harus melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa membangun peradaban tidak bisa dilakukan sendiri. Harus bersama-sama, lintas kelompok dan lintas agama, agar Mimika bisa menuju peradaban yang modern, tetapi tetap kokoh dalam nilai keimanan,” jelasnya.

Sementara poin ketiga adalah kebangkitan iman dan teologis. Menurut Jeffrey, perayaan Paskah menjadi momentum untuk merefleksikan identitas sebagai umat beragama, sekaligus memperkuat hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

“Perayaan ini membuktikan siapa kita sebagai umat beragama. Tujuannya bukan hanya meningkatkan iman, tetapi juga membangun relasi dengan sesama dan dengan Tuhan. Kita semua pada akhirnya akan kembali kepada kekekalan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebangkitan teologis juga membawa pemahaman bahwa manusia telah dibebaskan dari dosa, namun tetap terikat pada nilai-nilai moral, aturan, dan kehidupan dalam peradaban yang menuntut kebersamaan.

“Dalam kehidupan ini, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan orang lain, dan di situlah nilai kebersamaan menjadi sangat penting,” katanya.

Menutup pernyataannya, Jeffrey berharap momentum Paskah dapat menjadi titik balik bagi umat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, serta mengedepankan nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap perayaan Paskah ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertanggung jawab dan semakin mengutamakan kasih kepada sesama sebagai ciptaan Tuhan,” pungkasnya.

Sebagai bentuk dukungan lintas agama, Ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Mimika, Ust. H. Joko, turut memberikan pandangannya terkait pelaksanaan pawai obor Paskah di Mimika. Ia menegaskan bahwa Kota Timika merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerukunan yang patut dijaga dan terus dipupuk bersama.

Menurutnya, nilai kebersamaan, kasih, dan toleransi harus menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tercermin dari kehadiran para tokoh agama dari berbagai keyakinan yang turut ambil bagian dalam setiap perayaan hari besar keagamaan.

“Siapapun yang merayakan hari besar agamanya, semua tokoh agama dari lima agama pasti hadir dan ikut merayakan. Tujuannya adalah menjaga keharmonisan antar sesama, karena pada dasarnya manusia saling membutuhkan satu sama lain,” ujarnya.

Ia berharap semangat kebersamaan yang telah terbangun di Mimika dapat terus dipertahankan, sehingga kehidupan antar umat beragama tetap harmonis dan damai di tengah keberagaman. [Ryan/Linthon]

Scroll to Top