Di Balik Tambang Emas, Pendidikan Mimika Masih Tertinggal

Timika, TF – Di tengah gemerlap industri tambang dan besarnya kontribusi ekonomi dari PT Freeport Indonesia, wajah pendidikan di Kabupaten Mimika justru dinilai belum menunjukkan kemajuan yang sepadan. Hal ini mengemuka dalam Lokakarya Pendidikan yang digelar oleh Keuskupan Timika di Hotel Swiss-Belinn pada 14 April 2026 lalu.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, secara lugas mengungkapkan adanya ketimpangan antara kemajuan pembangunan dan kualitas pendidikan yang dirasakan masyarakat.

Menurutnya, di masa lalu pendidikan di Mimika justru lebih baik dalam hal tanggung jawab dan kualitas. Namun kini, masih banyak masyarakat, baik Orang Asli Papua (OAP) maupun non-OAP dari kalangan kurang mampu, yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak.

“Perkembangan ada di mana-mana, tapi pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat. Ini yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.

Lokakarya yang turut melibatkan Dinas Pendidikan Mimika ini menjadi ruang evaluasi bersama bagi pemerintah, gereja, dan pihak swasta. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk merumuskan solusi nyata atas berbagai persoalan yang selama ini menghambat kemajuan pendidikan.

Di sisi lain, Uskup Bernardus Bofitwos Baru mengingatkan bahwa arah pendidikan tidak boleh semata-mata mengikuti kebutuhan industri. Ia menilai, orientasi yang terlalu kuat pada dunia kerja berisiko mengabaikan pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Pendidikan bukan hanya soal mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—berpikir, beretika, dan memiliki kedewasaan spiritual,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan sistem pendidikan saat ini yang lebih menitikberatkan pada aspek akademik, sementara pembentukan karakter, moral, dan keterampilan hidup belum mendapat perhatian seimbang.

Melalui lokakarya ini, pemerintah daerah berharap lahir rekomendasi strategis yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan ke depan. Harapannya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Mimika dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sebab, di balik potensi besar yang dimiliki, tantangan pendidikan yang belum terselesaikan bisa menjadi penghambat utama pembangunan jangka panjang. [Evan]

Scroll to Top