Timika, TF — Di tengah beragam tantangan sosial di berbagai daerah, Kabupaten Mimika justru tampil sebagai contoh kuat bagaimana kepemimpinan daerah mampu merawat keberagaman menjadi kekuatan. Pengakuan itu datang dari SETARA Institute yang menobatkan Mimika sebagai kabupaten dengan kepemimpinan toleransi terbaik di Indonesia dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam peluncuran IKT 2025 di Hotel Artotel Mangkuluhur, Rabu (22/4/2026), menandai capaian penting bagi Mimika yang dinilai berhasil mengelola keberagaman secara inklusif dan berkelanjutan.
Berbeda dari sekadar capaian administratif, penghargaan ini menyoroti peran kepemimpinan daerah dalam membangun ruang hidup yang aman dan setara bagi semua kelompok. Di bawah kepemimpinan Bupati Johannes Rettob, Mimika dinilai mampu menghadirkan kebijakan yang tidak hanya responsif, tetapi juga aktif mendorong dialog lintas agama dan budaya.
Ketua FKUB Mimika, Jefrey Chris Hutagalung, menyebut capaian ini sebagai refleksi nyata dari kerja kolektif masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, toleransi di Mimika bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari yang tumbuh dari kolaborasi berbagai pihak.
“Ini menunjukkan bahwa harmoni tidak hadir begitu saja, tetapi dibangun melalui kepemimpinan yang terbuka dan kepercayaan antarwarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, Mimika kini tidak hanya menjadi daerah administratif, tetapi mulai dipandang sebagai referensi nasional dalam pengelolaan keberagaman. Bahkan, FKUB berharap agenda Konferensi Kota Toleran II tahun 2026 dapat digelar di Mimika sebagai pengakuan lebih lanjut atas posisi strategis tersebut.
Sementara itu, laporan IKT 2025 juga mencatat tren positif secara nasional. Rata-rata skor toleransi Indonesia meningkat menjadi 4,97, menunjukkan adanya perbaikan berkelanjutan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Meski sejumlah kota seperti Salatiga, Singkawang, dan Semarang masih mendominasi daftar kota paling toleran, kehadiran Mimika dalam kategori kepemimpinan justru memberi perspektif baru: bahwa arah kebijakan dan komitmen pemimpin daerah menjadi faktor kunci dalam merawat persatuan.
Dengan capaian ini, Mimika mengirim pesan kuat bahwa dari Papua, harmoni bisa tumbuh, berkembang, dan menjadi inspirasi bagi Indonesia. [Linthon]