Timika, TF — Di tengah padatnya agenda kunjungan kerja di Papua Tengah, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadirkan momen sederhana yang sarat makna di Timika. Tanpa seremoni besar, ia memilih menghabiskan waktu bersama puluhan anak yatim, menemani mereka berbelanja perlengkapan sekolah—sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi semangat belajar mereka.
Usai merampungkan rangkaian kegiatan di Nabire, Wapres langsung menuju Timika dan menyambangi toko alat tulis “Meriah”, Senin sore (20/04/2026). Di tempat itu, sebanyak 60 anak yatim dari berbagai panti asuhan berkumpul, di antaranya Al Amin Hidayatullah, Laskar Pelangi, Rumah Yatim dan Dhuafa Baiturrasul, serta Santa Susana Timika.
Namun kunjungan ini bukan sekadar agenda simbolik. Di antara rak-rak buku dan alat tulis, terbangun interaksi hangat yang begitu membekas. Wapres tampak membaur, mendampingi anak-anak memilih kebutuhan sekolah mulai dari buku tulis, pena, hingga krayon. Sesekali ia berbincang ringan, mencairkan suasana dan menghadirkan tawa yang memenuhi sudut toko.
“Ayo, mau pilih apa lagi?” ucapnya, sederhana, namun mampu memantik kebahagiaan yang tulus dari anak-anak.
Kehadiran negara terasa nyata dalam momen tersebut—bukan dalam bentuk kebijakan atau pidato, melainkan melalui sentuhan langsung yang menyentuh hati. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan, sekaligus memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Bagi Mikael Pedro Hernuta (14), siswa kelas VII SMP Negeri 4 Mimika, pengalaman ini menjadi kenangan tak terlupakan.
“Senang sekali. Kami jadi punya perlengkapan sekolah untuk belajar dan mengembangkan bakat,” ujarnya dengan wajah penuh kebahagiaan.
Hal serupa dirasakan oleh para pengasuh panti. Kepala Panti Asuhan Santa Susana Timika, Magdalena Ema Nunang, mengaku terharu melihat kebahagiaan anak-anak yang selama ini jarang mendapatkan perhatian secara langsung.
“Ini sungguh luar biasa. Anak-anak sangat bersyukur,” tuturnya.
Ia berharap perhatian seperti ini tidak berhenti di satu momen, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk dukungan nyata terhadap fasilitas dan kebutuhan panti asuhan, agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih layak dan mendukung proses belajar mereka.
Di balik kesederhanaan kegiatan tersebut, tersimpan pesan kuat: bahwa kehadiran negara tidak selalu harus besar dan megah. Kadang, cukup dengan hadir, mendengar, dan berbagi—harapan itu bisa tumbuh kembali di hati mereka yang membutuhkan.