Marsel Mameyo, Dari Petugas Pustu di Pedalaman Hingga Nahkodai Pelayanan Perizinan Mimika

Timika, TF – Usia boleh menginjak 58 tahun, namun semangat kerja Marsel Mameyo, SKM, tak pernah surut. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mimika itu dikenal memiliki prinsip hidup sederhana namun kuat: tetap semangat bekerja, jangan mengeluh, bersyukur, jalani dan nikmati.

Prinsip tersebut bukan sekadar slogan. Marsel telah membuktikannya melalui perjalanan panjang pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara selama lebih dari tiga dekade.

“Kalau bekerja jangan banyak mengeluh. Kita harus bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan, jalani dan nikmati setiap tugas yang dipercayakan,” ungkapnya pada media ini ketika ditemui pada ruang kerjanya, Selasa (02/06/2026).

Bagi Marsel, jabatan hanyalah amanah. Yang paling utama adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Karena itu, ia selalu menekankan kepada seluruh staf di lingkungan DPMPTSP agar melayani warga dengan sepenuh hati dan tidak meminta imbalan dalam bentuk apa pun saat masyarakat mengurus perizinan.

“Kita ada untuk melayani masyarakat. Jangan pernah mempersulit dan jangan pernah meminta uang kepada warga yang datang mengurus izin,” tegasnya.

Memulai Karier dari Pedalaman Mimika

Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan karier Marsel dimulai dari wilayah terpencil di Kabupaten Mimika.

Dengan latar belakang sebagai tenaga kesehatan, Marsel pertama kali bertugas pada tahun 1990 sebagai petugas kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kampung Umar atau Ararau, Distrik Mimika Barat Jauh.

Di tengah keterbatasan sarana dan akses transportasi saat itu, ia mengabdikan diri untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pedalaman.

Namun, pengabdian di wilayah terpencil tidak selalu berjalan mudah. Ada pengalaman tragis yang hingga kini masih membekas dalam ingatan Marsel.

Pada tahun 1997, saat melakukan perjalanan menggunakan speed boat menuju wilayah tugasnya, kedua mesin perahu yang ditumpangi tiba-tiba mati di tengah perjalanan. Kondisi cuaca yang buruk membuat ombak besar terus menghantam perahu yang membawa beberapa penumpang tersebut.

Dalam situasi mencekam itu, salah seorang rekannya melompat ke laut. Namun nahas, rekannya tersebut kemudian ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Peristiwa itu membuat suasana semakin panik. Sementara gelombang terus mengguncang perahu, Marsel bersama lima orang lainnya berusaha menyelamatkan diri.

Mereka akhirnya terpaksa berenang menuju bibir pantai di sekitar Kampung Ararau karena khawatir perahu tidak mampu bertahan menghadapi terjangan ombak yang semakin besar.

Di tengah perjuangan menyelamatkan diri tersebut, Marsel tidak hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Dengan satu tangan ia berenang melawan ombak, sementara tangan lainnya digunakan untuk menggendong seorang bayi agar tetap berada di atas permukaan air.

Perjuangan melawan ombak besar dan arus laut yang kuat itu menjadi salah satu pengalaman paling berat selama dirinya bertugas sebagai tenaga kesehatan di pedalaman Mimika.

Meski menghadapi berbagai risiko dan keterbatasan, Marsel tetap melanjutkan pengabdiannya. Dari Pustu tersebut, ia kemudian bertugas di puskesmas induk sebelum melanjutkan kariernya di Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. Di instansi tersebut, ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis mulai dari kepala seksi, kepala bidang hingga sekretaris. Pengalamannya di bidang kesehatan juga membawanya menjabat sebagai Kepala Bidang Perawatan di RSUD Mimika.

Puluhan tahun mengabdi di sektor kesehatan membuatnya dikenal sebagai birokrat yang memahami pelayanan publik dari tingkat paling bawah hingga manajemen pemerintahan.

Sempat Nonjob, Bangkit dan Dipercaya Memimpin PTSP

Perjalanan karier Marsel tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami masa sulit ketika harus menjalani status nonjob selama kurang lebih delapan bulan.

Namun masa tersebut tidak membuatnya patah semangat.

Sebaliknya, ia memilih tetap bekerja dengan penuh rasa syukur sambil menunggu kepercayaan berikutnya.

Kepercayaan itu akhirnya datang pada tahun 2023 ketika dirinya ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPMPTSP Mimika.

Meski berasal dari dunia kesehatan dan belum memiliki pengalaman khusus di bidang perizinan, Marsel menerima tugas tersebut sebagai tantangan baru.

Awal menjabat, ia mengakui membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan mempelajari berbagai regulasi serta mekanisme pelayanan perizinan. Namun seiring berjalannya waktu, dirinya mampu menguasai bidang tersebut dan membawa sejumlah perubahan dalam pelayanan publik.

Dedikasi dan kemampuannya dalam memimpin akhirnya membuat dirinya dipercaya menjadi Kepala DPMPTSP definitif pada masa kepemimpinan Bupati Mimika, Johannes Rettob.

MPP, Kebanggaan dalam Perjalanan Kariernya

Dari sekian banyak pengalaman selama menjadi birokrat, ada satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Marsel, yakni hadirnya Mall Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Mimika.

Bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Marsel turut berperan dalam mempercepat proses pembentukan MPP yang kini menjadi pusat pelayanan masyarakat.

Yang menarik, proses persiapan hingga peluncuran MPP hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

“Saat itu kami bekerja sangat cepat. Dalam waktu dua bulan MPP bisa diluncurkan dan langsung melayani masyarakat,” ujarnya.

Kini, MPP Kabupaten Mimika menjadi salah satu pusat pelayanan publik yang ramai dikunjungi warga setiap hari untuk mengurus berbagai dokumen administrasi maupun perizinan.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Marsel karena peluncuran MPP dilakukan bertepatan dengan program 100 hari kerja Bupati Mimika, Johannes Rettob.

Menurutnya, kehadiran MPP menjadi bukti bahwa pemerintah daerah mampu menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, mudah, dan terintegrasi bagi masyarakat.

“Bagi saya ini menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa ikut membantu kepala daerah menghadirkan pelayanan yang baik kepada masyarakat Mimika,” tuturnya.

Mengabdi Tanpa Mengeluh

Dari seorang petugas kesehatan di pedalaman Mimika hingga menjadi kepala dinas yang mengurusi pelayanan perizinan, perjalanan hidup Marsel Mameyo menunjukkan bahwa dedikasi, kesabaran, dan rasa syukur dapat membawa seseorang melewati berbagai tantangan.

Ia pernah menghadapi ganasnya ombak laut saat bertugas di pedalaman, kehilangan rekan kerja dalam sebuah musibah, merasakan masa nonjob selama berbulan-bulan, hingga harus mempelajari bidang baru yang jauh dari latar belakang pendidikannya.

Namun seluruh pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah.

Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap datang bekerja dengan semangat yang sama seperti ketika pertama kali bertugas di Pustu Kampung Umar puluhan tahun lalu.

Baginya, kunci pengabdian bukanlah mengejar jabatan, melainkan menjalankan setiap amanah dengan hati yang tulus.

“Jangan mengeluh. Tetap semangat bekerja, bersyukur, jalani dan nikmati,” pesan Marsel Mameyo yang hingga kini terus menjadi pegangan hidupnya. [Linthon]

Scroll to Top