Stunting di Mimika Masih Capai Ribuan Kasus, Dinkes Perkuat Kapasitas Tenaga Kesehatan

Timika, TF — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah itu ditandai dengan penutupan pelatihan tata laksana stunting yang berlangsung selama empat hari, sejak 15 hingga 18 Juli 2026.

Pelatihan tersebut diikuti tim penanganan stunting dari 26 puskesmas serta tiga rumah sakit rujukan, yakni RS Waa Banti, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), dan RSUD Mimika. Peserta terdiri atas dokter, nutrisionis atau petugas gizi, serta perawat dan bidan yang menangani Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Di sela penutupan kegiatan pada Sabtu (18/7/2026), Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati, mengatakan stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Mimika. Meski prevalensi stunting berdasarkan data rutin puskesmas dan posyandu berada di angka sekitar 9,7 persen, jumlah balita yang terdampak masih tergolong tinggi.

“Jumlah balita di Kabupaten Mimika sekitar 10 persen dari total penduduk yang kurang lebih 320 ribu jiwa. Dengan prevalensi 9,7 persen, berarti masih ada sekitar dua ribu lebih balita yang mengalami stunting. Jadi angka absolutnya masih tinggi,” ujarnya.

Hasmawati mengungkapkan, berdasarkan jumlah kasus, wilayah kerja Puskesmas Wania mencatat balita stunting terbanyak, disusul Puskesmas Timika. Namun tingginya jumlah tersebut dipengaruhi oleh besarnya populasi balita di kawasan perkotaan sehingga persentase kasus relatif lebih rendah dibanding beberapa wilayah lain.

Sebaliknya, sejumlah puskesmas di daerah pesisir dan pegunungan memiliki persentase stunting yang lebih tinggi, meski jumlah balitanya lebih sedikit.

Menurutnya, tenaga kesehatan tidak boleh menunggu seorang anak dinyatakan stunting untuk melakukan intervensi. Pemantauan pertumbuhan harus dilakukan sejak dini agar balita yang mengalami gangguan kenaikan berat badan dapat segera diperiksa dan mendapatkan penanganan yang tepat.

“Kalau berat badan balita tidak naik, segera dirujuk ke dokter untuk diketahui penyebabnya dan ditangani sedini mungkin. Jangan menunggu sampai anak sudah stunting,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa stunting tidak selalu dapat dikenali dari kondisi fisik anak. Banyak anak yang tampak sehat bahkan bertubuh gemuk, tetapi mengalami gangguan pertumbuhan yang berdampak pada perkembangan otak, tingkat kecerdasan, dan kemampuan belajar di masa depan. Karena itu, penilaian stunting tetap mengacu pada indikator tinggi badan menurut umur sesuai standar Kementerian Kesehatan.

Hasmawati menambahkan, pelatihan ini menekankan tata laksana stunting secara komprehensif, mulai dari deteksi dini, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga penanganan kasus sesuai standar pelayanan.

Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum seorang anak lahir, yakni sejak remaja putri memasuki masa reproduksi.

“Stunting berawal dari masalah gizi yang berlangsung lama, dimulai sejak calon ibu masih remaja, kemudian berlanjut saat kehamilan. Jika ibu mengalami kekurangan energi kronis dan ditambah tingginya penyakit infeksi seperti malaria, maka risiko melahirkan anak stunting akan semakin besar,” pungkasnya.

Scroll to Top